Artikel & Berita
Berita seputar sekolah.
Memahami Pendidikan Abad 21
MEMAHAMI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ABAD 21
Oleh : Mulyadi, M.Pd
A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu kekuatan utama yang menentukan arah kemajuan
suatu bangsa. Melalui pendidikan, manusia tidak hanya memperoleh pengetahuan,
tetapi juga membangun karakter, mengembangkan kemampuan, membentuk cara
berpikir, dan mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan.
Namun, pendidikan tidak dapat berjalan dengan cara yang sama dari waktu
ke waktu. Perubahan zaman menuntut perubahan cara manusia belajar dan mengajar.
Dahulu, ketika sumber informasi masih terbatas, guru dan buku menjadi
sumber utama pengetahuan. Peserta didik datang ke sekolah untuk memperoleh informasi
yang disampaikan oleh guru. Pembelajaran banyak berlangsung melalui ceramah,
mencatat, menghafal, dan mengerjakan soal. Pembelajaran berpusat pada guru.
Situasi tersebut mengalami perubahan yang sangat besar.
Hari ini, peserta didik dapat memperoleh informasi hanya dengan
menggunakan telepon pintar. Mereka dapat mengakses video pembelajaran, buku
digital, jurnal, kursus daring, simulasi, bahkan berdiskusi dengan orang dari
berbagai belahan dunia.
Persoalannya bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, tetapi bagaimana memilih, memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi tersebut secara bijaksana. Di sinilah pendidikan abad ke-21 menemukan relevansinya.
B. Dunia yang Terus Berubah
Perubahan dunia berlangsung dengan sangat cepat. Teknologi digital telah
mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, berbelanja, belajar, bahkan
bersosialisasi.
Kemajuan teknologi juga melahirkan berbagai jenis pekerjaan baru. Pada
saat yang sama, beberapa jenis pekerjaan mengalami perubahan atau bahkan
berkurang karena adanya otomatisasi.
Peserta didik yang belajar hari ini mungkin akan memasuki dunia kerja
yang sebagian jenis pekerjaannya belum kita kenal sekarang.
Kondisi tersebut memberikan tantangan besar bagi dunia pendidikan.
Sekolah tidak mungkin hanya mengajarkan pengetahuan yang bersifat statis.
Sekolah harus membangun kemampuan peserta didik untuk belajar sepanjang
hayat. Peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk mengatakan: "Saya
belum mengetahui hal ini, tetapi saya mampu belajar untuk memahaminya." Inilah
salah satu karakter penting manusia abad ke-21.
C. Dari Menghafal Menuju Memahami
Salah satu perubahan penting dalam pendidikan abad ke-21 adalah perubahan
orientasi belajar. Pembelajaran tradisional sering kali menempatkan hafalan sebagai
indikator utama keberhasilan belajar. Peserta didik dianggap berhasil apabila
mampu mengingat informasi dan memberikan jawaban yang sesuai.
Namun, kehidupan nyata membutuhkan lebih dari sekadar hafalan. Seseorang
mungkin mampu menghafal definisi tentang masalah lingkungan, tetapi apakah ia
mampu menemukan solusi terhadap masalah sampah di sekitarnya?. Seseorang
mungkin mampu menghafal teori kewirausahaan, tetapi apakah ia mampu menciptakan
produk yang dibutuhkan masyarakat?. Seseorang mungkin mampu menghafal teori
komunikasi, tetapi apakah ia mampu menyampaikan gagasan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran harus
bergerak:
Dari menghafal → menuju memahami
Dari memahami → menuju menerapkan
Dari menerapkan → menuju menganalisis
Dari menganalisis → menuju mencipta
Dengan demikian, pembelajaran harus memberikan pengalaman yang
memungkinkan peserta didik menggunakan pengetahuan dalam situasi nyata.
D. Dari Guru sebagai Pusat Menuju Peserta Didik sebagai
Subjek
Perubahan pendidikan abad ke-21 juga membawa perubahan terhadap posisi
guru dan peserta didik. Guru tetap memiliki peran penting, tetapi perannya
mengalami transformasi. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Guru
menjadi perancang pengalaman belajar. Peserta didik bukan lagi sekadar
penerima informasi. Mereka menjadi pelaku utama proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran abad ke-21, guru dapat bertanya:
"Apa yang dapat saya lakukan agar peserta didik mampu menemukan,
memahami, dan menggunakan pengetahuan?"
Pertanyaan ini berbeda dengan:
"Bagaimana saya dapat menyelesaikan materi?"
Perbedaan tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki dampak yang besar terhadap proses pembelajaran.
E. Kompetensi yang Dibutuhkan Peserta Didik
Pembelajaran abad ke-21 sering dikaitkan dengan kompetensi 4C,
yaitu:
1. Critical Thinking
- Peserta didik mampu:
- menganalisis informasi;
- mengidentifikasi masalah;
- mengevaluasi bukti;
- membedakan fakta dan opini;
- menyusun argumentasi;
- mengambil keputusan.
2. Creativity
Peserta didik mampu:
- menghasilkan ide;
- menemukan alternatif solusi;
- menciptakan produk;
- melakukan inovasi;
- mengembangkan gagasan.
3. Communication
Peserta didik mampu:
- menyampaikan ide;
- mendengarkan orang lain;
- berdiskusi;
- melakukan presentasi;
- berkomunikasi secara efektif.
4. Collaboration
Peserta didik mampu:
- bekerja dalam tim;
- berbagi tugas;
- menghargai perbedaan;
- menyelesaikan konflik;
- bertanggung jawab terhadap tujuan bersama.Namun, kompetensi tersebut perlu dilandasi oleh karakter.
Peserta didik yang kritis tetapi tidak beretika dapat menggunakan
kecerdasannya untuk hal yang salah. Peserta didik yang kreatif tetapi tidak
memiliki integritas dapat menghasilkan inovasi yang merugikan. Peserta didik
yang mampu berkomunikasi tetapi tidak memiliki empati dapat menggunakan
kemampuan komunikasinya untuk memanipulasi orang lain.
Karena itu, pendidikan abad ke-21 harus menyatukan:
Kompetensi + Karakter + Literasi + Teknologi
F. Tantangan Pendidikan Abad 21
Beberapa tantangan utama pendidikan abad ke-21 antara lain:
1. Ledakan Informasi
Peserta didik menghadapi informasi dalam jumlah yang sangat besar.
Tantangannya bukan hanya memperoleh informasi, tetapi menentukan
informasi yang benar.
2. Hoaks dan Misinformasi
Informasi yang salah dapat menyebar dengan sangat cepat.
Peserta didik harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan literasi
digital.
3. Perkembangan AI
Kecerdasan buatan memberikan peluang besar bagi pendidikan, tetapi juga
menghadirkan tantangan terkait keaslian karya, ketergantungan teknologi, dan
etika akademik.
4. Perubahan Dunia Kerja
Dunia kerja membutuhkan manusia yang adaptif, kreatif, mampu bekerja
sama, dan mampu memecahkan masalah.
5. Krisis Karakter
Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai, etika,
tanggung jawab, dan kemanusiaan.
G. Sekolah yang Dibutuhkan Abad 21
Sekolah abad ke-21 bukan sekadar sekolah yang memiliki banyak komputer
atau akses internet cepat.
Sekolah abad ke-21 adalah sekolah yang mampu menciptakan budaya
belajar.
Budaya tersebut ditandai oleh:
- peserta didik berani bertanya;
- guru terbuka terhadap inovasi;
- kesalahan dipandang sebagai
bagian dari proses belajar;
- kolaborasi dihargai;
- kreativitas dikembangkan;
- teknologi digunakan secara
bijaksana;
- karakter menjadi fondasi;
- pembelajaran terhubung dengan
kehidupan nyata.
Sekolah harus menjadi tempat di mana peserta didik dapat mengatakan:
"Saya datang ke sekolah bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi
untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik dan mampu memberikan
manfaat."
H. Refleksi
Jawablah pertanyaan berikut secara reflektif.
- Apakah pembelajaran di sekolah
saat ini sudah sesuai dengan kebutuhan abad ke-21?
- Apakah peserta didik lebih banyak
menghafal atau memahami?
- Apakah guru sudah memberikan
ruang yang cukup bagi peserta didik untuk berpikir?
- Bagaimana teknologi dapat
membantu pembelajaran tanpa mengurangi nilai-nilai kemanusiaan?
- Kompetensi apa yang paling perlu
dikembangkan di sekolah Anda?
- Bagaimana sekolah mempersiapkan
peserta didik menghadapi dunia kerja yang terus berubah?
I. Rangkuman
Pendidikan abad ke-21 lahir dari kebutuhan untuk merespons perubahan
dunia yang berlangsung sangat cepat. Perkembangan teknologi, arus informasi,
kecerdasan buatan, dan transformasi dunia kerja menuntut perubahan cara belajar
dan mengajar.
Peserta didik tidak cukup hanya menguasai pengetahuan. Mereka harus mampu
berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, berkolaborasi, memiliki literasi,
menguasai teknologi secara bijaksana, serta memiliki karakter yang kuat.
Guru juga perlu melakukan transformasi peran. Guru tidak hanya menjadi
penyampai informasi, tetapi menjadi fasilitator, pembimbing, motivator,
inovator, dan teladan bagi peserta didik.
Pada akhirnya, pendidikan abad ke-21 harus berorientasi pada pembentukan manusia yang mampu belajar, berpikir, berkarya, berkolaborasi, beradaptasi, dan berkarakter. Pendidikan yang baik bukan hanya mempersiapkan peserta didik untuk lulus ujian, tetapi mempersiapkan mereka untuk menjalani kehidupan.
Penerapan 4C pada Kurikulum Mendalam
IMPLEMENTASI KOMPETRENSI 4C
Berikut adalah contoh implementasi kompetensi
abad ke-21 (4C) pada beberapa mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD).
Tabel ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penyusunan modul ajar,
perangkat pembelajaran, maupun presentasi mengenai Pembelajaran Mendalam.
|
Mata Pelajaran |
Critical
Thinking (Berpikir Kritis) |
Creativity
(Kreativitas) |
Communication
(Komunikasi) |
Collaboration
(Kolaborasi) |
|
Bahasa Indonesia |
Menganalisis isi cerita dan menentukan pesan moral. |
Menulis cerita pendek berdasarkan pengalaman sendiri. |
Menceritakan kembali isi bacaan di depan kelas. |
Menyusun teks cerita secara berkelompok. |
|
Matematika |
Menyelesaikan soal cerita dengan berbagai strategi. |
Membuat permainan sederhana menggunakan konsep bangun
datar. |
Menjelaskan langkah penyelesaian soal kepada teman. |
Berdiskusi dalam kelompok mencari solusi suatu masalah
matematika. |
|
IPAS |
Mengidentifikasi penyebab pencemaran lingkungan di sekitar
sekolah. |
Membuat model sederhana siklus air atau gunung meletus. |
Menyampaikan hasil pengamatan melalui presentasi. |
Melakukan eksperimen dan mencatat hasil bersama kelompok. |
|
Pendidikan Pancasila |
Menganalisis contoh perilaku yang sesuai dan tidak sesuai
dengan nilai Pancasila. |
Membuat poster tentang hidup rukun. |
Menyampaikan pendapat dalam musyawarah kelas. |
Melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan kelas. |
|
Seni Budaya |
Mengamati unsur-unsur dalam sebuah karya seni. |
Membuat karya kolase dari bahan bekas. |
Menjelaskan makna karya seni yang dibuat. |
Membuat pertunjukan seni secara berkelompok. |
|
PJOK |
Menentukan strategi permainan yang efektif. |
Menciptakan variasi gerakan senam sederhana. |
Memberikan instruksi dan semangat kepada teman satu tim. |
Bermain olahraga beregu dengan menjunjung sportivitas. |
|
Pendidikan Agama |
Menganalisis hikmah suatu kisah teladan. |
Membuat media pembelajaran tentang akhlak mulia. |
Menceritakan kembali kisah nabi atau tokoh teladan. |
Bermain peran mengenai perilaku jujur dan tolong-menolong. |
Contoh Implementasi 4C dalam Satu Kegiatan Pembelajaran
Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Materi: Menentukan ide pokok bacaan.
|
Kompetensi 4C |
Implementasi |
|
Critical Thinking |
Siswa membaca teks, kemudian menentukan ide pokok setiap
paragraf beserta alasannya. |
|
Creativity |
Siswa membuat peta konsep atau infografis isi bacaan. |
|
Communication |
Siswa mempresentasikan hasil analisis di depan kelas dan
menjawab pertanyaan teman. |
|
Collaboration |
Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyusun ringkasan
bacaan. |
Mata Pelajaran: Matematika
Materi: Bangun Datar
|
Kompetensi 4C |
Implementasi |
|
Critical Thinking |
Mengidentifikasi bentuk bangun datar pada benda-benda di
sekitar sekolah. |
|
Creativity |
Mendesain rumah atau taman menggunakan berbagai bentuk
bangun datar. |
|
Communication |
Menjelaskan alasan pemilihan bentuk bangun datar pada
hasil desain. |
|
Collaboration |
Mendesain miniatur secara berkelompok. |
Mata Pelajaran: IPAS
Materi: Daur Air
|
Kompetensi 4C |
Implementasi |
|
Critical Thinking |
Menganalisis penyebab terjadinya banjir di lingkungan
sekitar. |
|
Creativity |
Membuat model atau diorama daur air. |
|
Communication |
Menjelaskan proses daur air menggunakan media yang dibuat. |
|
Collaboration |
Bekerja sama dalam melakukan percobaan sederhana tentang
penguapan. |
Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila
Materi: Gotong Royong
|
Kompetensi 4C |
Implementasi |
|
Critical Thinking |
Menganalisis manfaat gotong royong dalam kehidupan
sehari-hari. |
|
Creativity |
Membuat slogan atau poster tentang pentingnya gotong
royong. |
|
Communication |
Menyampaikan hasil diskusi mengenai nilai-nilai gotong
royong. |
|
Collaboration |
Melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah. |
Penerapan 4C pada Kurikulum Mendalam
IMPLEMENTASI KOMPETRENSI 4C
Berikut adalah contoh implementasi kompetensi
abad ke-21 (4C) pada beberapa mata pelajaran di Sekolah Dasar (SD).
Tabel ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penyusunan modul ajar,
perangkat pembelajaran, maupun presentasi mengenai Pembelajaran Mendalam.
|
Mata Pelajaran |
Critical
Thinking (Berpikir Kritis) |
Creativity
(Kreativitas) |
Communication
(Komunikasi) |
Collaboration
(Kolaborasi) |
|
Bahasa Indonesia |
Menganalisis isi cerita dan menentukan pesan moral. |
Menulis cerita pendek berdasarkan pengalaman sendiri. |
Menceritakan kembali isi bacaan di depan kelas. |
Menyusun teks cerita secara berkelompok. |
|
Matematika |
Menyelesaikan soal cerita dengan berbagai strategi. |
Membuat permainan sederhana menggunakan konsep bangun
datar. |
Menjelaskan langkah penyelesaian soal kepada teman. |
Berdiskusi dalam kelompok mencari solusi suatu masalah
matematika. |
|
IPAS |
Mengidentifikasi penyebab pencemaran lingkungan di sekitar
sekolah. |
Membuat model sederhana siklus air atau gunung meletus. |
Menyampaikan hasil pengamatan melalui presentasi. |
Melakukan eksperimen dan mencatat hasil bersama kelompok. |
|
Pendidikan Pancasila |
Menganalisis contoh perilaku yang sesuai dan tidak sesuai
dengan nilai Pancasila. |
Membuat poster tentang hidup rukun. |
Menyampaikan pendapat dalam musyawarah kelas. |
Melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan kelas. |
|
Seni Budaya |
Mengamati unsur-unsur dalam sebuah karya seni. |
Membuat karya kolase dari bahan bekas. |
Menjelaskan makna karya seni yang dibuat. |
Membuat pertunjukan seni secara berkelompok. |
|
PJOK |
Menentukan strategi permainan yang efektif. |
Menciptakan variasi gerakan senam sederhana. |
Memberikan instruksi dan semangat kepada teman satu tim. |
Bermain olahraga beregu dengan menjunjung sportivitas. |
|
Pendidikan Agama |
Menganalisis hikmah suatu kisah teladan. |
Membuat media pembelajaran tentang akhlak mulia. |
Menceritakan kembali kisah nabi atau tokoh teladan. |
Bermain peran mengenai perilaku jujur dan tolong-menolong. |
Contoh Implementasi 4C dalam Satu Kegiatan Pembelajaran
Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia
Materi: Menentukan ide pokok bacaan.
|
Kompetensi 4C |
Implementasi |
|
Critical Thinking |
Siswa membaca teks, kemudian menentukan ide pokok setiap
paragraf beserta alasannya. |
|
Creativity |
Siswa membuat peta konsep atau infografis isi bacaan. |
|
Communication |
Siswa mempresentasikan hasil analisis di depan kelas dan
menjawab pertanyaan teman. |
|
Collaboration |
Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyusun ringkasan
bacaan. |
Mata Pelajaran: Matematika
Materi: Bangun Datar
|
Kompetensi 4C |
Implementasi |
|
Critical Thinking |
Mengidentifikasi bentuk bangun datar pada benda-benda di
sekitar sekolah. |
|
Creativity |
Mendesain rumah atau taman menggunakan berbagai bentuk
bangun datar. |
|
Communication |
Menjelaskan alasan pemilihan bentuk bangun datar pada
hasil desain. |
|
Collaboration |
Mendesain miniatur secara berkelompok. |
Mata Pelajaran: IPAS
Materi: Daur Air
|
Kompetensi 4C |
Implementasi |
|
Critical Thinking |
Menganalisis penyebab terjadinya banjir di lingkungan
sekitar. |
|
Creativity |
Membuat model atau diorama daur air. |
|
Communication |
Menjelaskan proses daur air menggunakan media yang dibuat. |
|
Collaboration |
Bekerja sama dalam melakukan percobaan sederhana tentang
penguapan. |
Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila
Materi: Gotong Royong
|
Kompetensi 4C |
Implementasi |
|
Critical Thinking |
Menganalisis manfaat gotong royong dalam kehidupan
sehari-hari. |
|
Creativity |
Membuat slogan atau poster tentang pentingnya gotong
royong. |
|
Communication |
Menyampaikan hasil diskusi mengenai nilai-nilai gotong
royong. |
|
Collaboration |
Melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah. |
Sejarah upacara HUT RI 17 Agustus: Awal mula, makna, dan perkembangannya
Jakarta (ANTARA) - Upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus menjadi tradisi nasional untuk mengenang perjuangan para pahlawan dan menghormati momen Proklamasi Kemerdekaan 1945. Tradisi tersebut terus berlangsung hingga kini dengan pelaksanaan utama di Istana Merdeka.
Upacara peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan. Setiap rangkaian kegiatan, mulai dari pengibaran bendera Merah Putih hingga pembacaan teks proklamasi, memiliki nilai sejarah yang kuat.
Awal mula upacara kemerdekaan Indonesia
Upacara pertama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan berlangsung pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Saat itu, acara berlangsung secara sederhana setelah Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan.
Dalam momen tersebut, bendera Merah Putih yang dijahit oleh Fatmawati dikibarkan oleh Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, disaksikan oleh masyarakat yang hadir. Pengibaran bendera dan lagu Indonesia Raya menjadi bagian penting dari perayaan awal kemerdekaan Indonesia.
Perjalanan upacara HUT RI dari masa ke masa
Pada masa awal kemerdekaan, pelaksanaan upacara HUT RI belum dilakukan secara besar seperti sekarang karena Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik mempertahankan kemerdekaan.
Peringatan kemerdekaan kemudian berkembang menjadi agenda kenegaraan yang dipimpin oleh presiden. Istana Merdeka menjadi salah satu lokasi utama pelaksanaan upacara detik-detik Proklamasi. Upacara peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka mulai menjadi tradisi kenegaraan yang dilaksanakan setiap 17 Agustus.
Seiring berjalannya waktu, upacara HUT RI semakin memiliki tata cara yang lebih terstruktur, termasuk keterlibatan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), pembacaan teks proklamasi, mengheningkan cipta, hingga pengibaran dan penurunan bendera Merah Putih.
Makna upacara bendera HUT Kemerdekaan RI
Upacara bendera setiap 17 Agustus memiliki sejumlah makna penting bagi bangsa Indonesia, di antaranya:
- Mengenang jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan.
- Menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air.
- Menghormati simbol negara, terutama bendera Merah Putih.
- Memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat.
Selain itu, upacara kemerdekaan menjadi momentum untuk mengingat kembali nilai perjuangan para pendiri bangsa dalam membangun Indonesia yang berdaulat.
Tradisi pengibaran Bendera Pusaka
Salah satu bagian yang paling ditunggu dalam upacara HUT RI adalah prosesi pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih. Bendera tersebut memiliki sejarah panjang sejak dikibarkan pertama kali saat Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Dalam pelaksanaan upacara modern, pengibaran bendera dilakukan oleh anggota Paskibraka yang telah melalui proses seleksi dan pelatihan. Tugas tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan generasi sebelumnya.
Perkembangan upacara HUT RI saat ini
Pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan RI terus mengalami perkembangan mengikuti kondisi zaman. Selain di Istana Merdeka Jakarta, kegiatan peringatan kemerdekaan juga pernah digelar di lokasi lain, termasuk di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada peringatan HUT ke-79 RI tahun 2024.
Meski lokasi dan rangkaiannya dapat berubah, nilai utama dari upacara bendera tetap sama, yakni memperingati hari lahirnya Republik Indonesia dan menghargai perjuangan para pendiri bangsa.
Hingga kini, upacara bendera HUT Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus menjadi tradisi yang tidak hanya dilakukan di tingkat nasional, tetapi juga di sekolah, instansi pemerintah, hingga berbagai lingkungan masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah bangsa.
Copyright © ANTARA 2026
Alasan Soekarno Pilih Tanggal 17 Agustus untuk Proklamasi Kemerdekaan RI
KOMPAS.com - Setiap 17 Agustus, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan untuk mengenang Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan oleh Presiden pertama Indonesia yakni Soekarno pada 17 Agustus 1945. Pada tanggal tersebut, Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta, menandai lahirnya Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Namun, pemilihan tanggal tersebut bukan tanpa pertimbangan. Soekarno memiliki alasan tersendiri sebelum akhirnya menetapkan 17 Agustus 1945 sebagai hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Lantas, mengapa Soekarno memilih tanggal 17 Agustus?
Alasan Soekarno memilih 17 Agustus Dilansir dari Kompas.com, Jumat (18/8/2023), salah satu pertimbangan Soekarno adalah tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan Jumat Legi dalam kalender Jawa. Hari tersebut dipercaya memiliki makna sebagai hari yang baik, suci, dan membawa kebahagiaan. Baca juga: Mengingat Jahitan Fatmawati di Balik Sang Saka Merah Putih Selain itu, Soekarno juga menganggap angka 17 sebagai angka yang memiliki makna khusus. Dalam Islam, Al Quran disebut diturunkan pada 17 Ramadhan. Sementara itu, jumlah rakaat dalam salat lima waktu adalah 17 rakaat. Pertimbangan tersebut semakin menguatkan keyakinan Soekarno bahwa tanggal 17 merupakan waktu yang baik untuk melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Baca juga: BMKG Ungkap Wilayah Berpotensi Hujan Lebat hingga 17 Agustus 2026, Mana Saja? Sempat didesak golongan muda Sebelum Proklamasi, penentuan waktu kemerdekaan sempat menjadi perdebatan antara Soekarno-Hatta dan golongan muda. Golongan muda menginginkan Proklamasi segera dilakukan, bahkan pada 15 Agustus 1945. Mereka khawatir kemerdekaan Indonesia dianggap sebagai hadiah dari Jepang setelah negara tersebut menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Baca juga: Wajah Upacara HUT RI dari Presiden ke Presiden... Pada 15 Agustus 1945, golongan muda mendatangi kediaman Soekarno dan mendesaknya segera memproklamasikan kemerdekaan.
Kata-kata Petani dan Buruh yang Diundang Hadir Upacara HUT Ke-81 RI di Istana Merdeka
KOMPAS.com - Sejumlah petani dan buruh dari berbagai daerah mendapat kesempatan menghadiri Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (17/8/2026) ini. Bagi mereka, undangan untuk mengikuti langsung upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengalaman yang tidak pernah disangka sebelumnya. Salah satunya Darim Juanda, petani asal Karawang, Jawa Barat, yang telah bekerja di sektor pertanian selama 14 tahun. Baca juga: Susunan Upacara HUT Ke-81 RI 17 Agustus 2026: Waktu dan Imbauan ke Warga Darim mengaku terharu ketika menerima undangan untuk menghadiri upacara kemerdekaan di Istana Merdeka. "Begitu mendapat surat undangan dari Bapak Presiden Prabowo untuk mengikuti upacara kemerdekaan Republik Indonesia sangat terharu. Bahkan, saya tidak menyangka sekali bahwa saya akan mendapat undangan di hari kemerdekaan di Istana Negara," ujar Darim, dikutip dari siaran Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Minggu (16/8/2026). Mengapa Air Mata Megawati Jatuh Tiga Kali di HUT Ke-81 RI? Artikel Kompas.id Darim menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto karena telah memberikan kesempatan kepadanya menjadi salah satu perwakilan petani dari Karawang. "Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo yang telah mengundang kami sebagai wakil para petani di seluruh Indonesia khususnya di Kabupaten Karawang. Indonesia Merdeka! Merdeka! Merdeka!" katanya. Petani lain juga tak menyangka Undangan serupa diterima Nuroni, petani asal Karawang yang telah lebih dari 30 tahun bekerja di sektor pertanian. Nuroni mengaku terkejut sekaligus bangga ketika mengetahui dirinya mendapat kesempatan menghadiri acara kenegaraan di Istana Merdeka. "Pertama, saya mendapat undangan itu kaget karena enggak nyangka seumur hidup saya ini dapat undangan dari Presiden. Yang kedua saya bangga karena mungkin saya terpilih di antara para petani," ujar Nuroni. Buruh: Seperti dapat doorprize Kesempatan menghadiri upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka juga dirasakan Bambang Edi Nurudin, buruh yang telah bekerja selama lebih dari 23 tahun di kawasan Jakarta Timur. Bambang mengaku sangat senang setelah mendapat undangan tersebut. Ia bahkan menggambarkan pengalaman itu seperti mendapatkan hadiah. "Alhamdulillah banget ini, senang nih. Kayak dapat doorprize saja ini," kata Bambang. Menurut Bambang, kesempatan tersebut menjadi pengalaman istimewa yang nantinya akan ia ceritakan kepada istri dan anaknya.